Sebuah Kisah Kehidupan

11/20/2014



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah akhirnya Diko bisa nulis post lagi setelah beberapa lama blog ini terbengkalai.
Ini kisah mungkin gak terlalu penting bagi kalian. Diko hanya ingin menulis kisah ini agar tidak terlupakan dan menjadi pelajaran bagi Diko.
Ya, di post kali ini Diko akan bercerita tentang kisah hidup Diko yang akan terus berlanjut sampai ajal menjemput.


Tidak semua orang bisa merasakan kisah hidup ini. Kisah tentang apa?
Jadi, Diko adalah anak dari orangtua yang tidak tinggal serumah. Biasa aja kan ya? Gak, bagi Diko ini gak biasa. Kenapa? Karena orangtua Diko sudah bercerai sejak Diko masih sangat kecil, bahkan Diko pun tidak tahu tepatnya kapan orangtua Diko bercerai.

Sejak kecil, Diko tinggal bersama ibu, tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di utara SD N 2 Wates. Kehidupan yang menyenangkan bagi Diko pada waktu itu, karena Diko belum tahu kenyataan sebenarnya.

Alhamdulillah, meskipun sudah tidak serumah, ayah masih sering mengunjungi Diko karena kebetulan bekerja masih di satu kabupaten. 

Setiap ayah berkunjung, tidak ada yang spesial sebenarnya, layaknya hubungan anak dengan orangtua biasanya. Beli mainan lah, beli makanan, jalan-jalan. Saat ayah pulang, biasanya saat sudah malam hari, Diko kadang menangis dipelukan ibu. "Kenapa ayah pergi, Bu?"

Alhamdulillah, hubungan ayah dan ibu baik-baik saja (di depan Diko). Diko tidak tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya. Ya, mungkin karena Diko merupakan anak satu-satunya, jadi mereka berusaha untuk memberikan Diko yang terbaik walau di tengah segala keterbatasan.

Pernah, suatu saat, kami berkunjung ke Kaliurang. Layaknya keluarga seperti pada umumnya. Diko merasa bahagia waktu itu, bisa dilihat dari sebuah foto saat Diko tersenyum.

Beberapa bulan sekali, Diko sering diajak oleh ibu mengunjungi orangtua ibu di daerah Kendal, Jawa Tengah. Biasanya Diko dan ibu ke Kendal dengan menggunakan bus Ramayana, kami menunggu bus di daerah Gamping, di sekitar tugu (apalah itu namanya). Sampai di Terminal Terboyo, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus kecil. Hal ini merupakan sebuah pengalaman yang ingin Diko ulangi lagi, karena saat naik bus merupakan hal yang berkesan bagi Diko.

Beberapa bulan sekali juga, Diko sering diajak oleh ayah mengunjungi orangtua ayah di daerah Prambanan, Sleman. Biasanya Diko dijemput dengan menggunakan motor dinas Honda Win 100. Diko juga sering diajak ayah mengunjungi Kebun Binatang Gembiraloka. 

Hari berlalu, Diko masuk ke TK Puspayoga, masih di daerah sekitar kontrakan, tetapi, kali ini ibu diberi sebuah rumah di utara rumah bupati Kulonprogo. TK hanya berjarak 50 meter dari rumah.

Tidak ada yang spesial saat itu, kehidupan berjalan seperti biasa. Diko menjadi anak yang biasa saja.

Alhamdulillah, setiap hari Jum'at, ayah sering mengajak Diko untuk sholat Jum'at di Masjid Agung Wates. Beberapa waktu, ayah pernah mengajak Diko ke sebuah rental PS, game yang Diko mainkan waktu itu GTA Vice City dan Metal Slug.

Sekitar tahun 2004, Diko masuk ke SD N 2 Wates. Hal lain yang terjadi adalah ibu menikah lagi. Kami pun pindah ke daerah Beji, Wates. Keluarga baru, masih belum terlalu kenal. Kadang perlakuan mereka sedikit "kasar" atau memang Diko yang terlalu lemah(?). Alhamdulillah ada bulek yang selalu baik pada Diko.

Di sinilah Diko mulai jarang diajak ayah untuk sholat Jum'at di Masjid Agung Wates. Mungkin karena suatu alasan, ayah enggan untuk mengunjungi tempat tinggal Diko yang baru.

Di SD, Diko bertemu dengan beberapa teman baru dan beberapa teman main. Diko tumbuh sebagai anak yang biasa, tidak ada pencapaian yang sangat wah. Mungkin karena lama tinggal bersama ibu, sifat Diko menjadi terlalu lemah. Kadang Diko sering menerima bully-an. Pernah suatu saat, ibu sampai harus mendatangi sekolah karena ada teman Diko yang sudah keterlaluan.

Tahun 2008, ibu diberi amanah untuk menjadi camat di Kecamatan Panjatan. kami sekeluarga pindah ke rumah dinas. Di sini, Diko bertemu dengan teman-teman baru. Masih di dalam kompleks kecamatan, ada rumah seorang bidan. Diko berteman baik dengan anak bidan tersebut, namanya Jurnal dan Dion. Pada awalnya, Diko berteman baik juga dengan anak-anak di sekitar rumah dinas, tapi karena pergaulan mereka yang tidak cocok dengan Diko, ditambah dengan suatu hal lainnya, Diko memilih untuk menutup pergaulan. Diko hanya sering bermain dengan Jurnal dan Dion.

Tahun 2010, Diko pertama kalinya mengalami ujian untuk kelulusan, alhamdulillah hasilnya tidak terlalu mengecewakan bagi seorang anak yang tidak memiliki pencapaian yang wah selama SD. Diko mendapatkan total nilai 26,90 (mungkin kecil bagi sebagian kalian), Diko mendapat peringkat 1 dan 2 (Diko lupa di bagian apa mendapat peringkat tersebut).

Diko melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, di SMP N 1 Wates. SMP ini berada tepat di selatan SD N 2 Wates. Lagi-lagi, tidak ada yang spesial selama SMP, Diko tumbuh menjadi anak yang biasa saja. Selama SMP, Diko berada di kelas D. Teman-teman kelas Diko lumayan bersahabat dan bersikap baik, beberapa malah akrab.

Tanggal 11 November 2011, akhirnya Diko merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang kakak. Alhamdulillah ibu melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Muhammad Nabil El Zaman

Tahun 2012, ibu diberi amanah untuk menjadi camat di Kecamatan Sentolo.

Selama SMP, Diko pergi dan pulang sekolah dengan menggunakan sepeda, karena jaraknya yang hanya 1 kilometer dari rumah Beji.

Pada saat Diko berada di kelas 7/8, ayah memutuskan untuk menikah. Ya, saat itu ayah mendatangi langsung Diko ke sekolah dan memberitahu Diko secara langsung.

Di akhir-akhir masa SMP, Diko giat untuk mengikuti les dan tambahan dari guru. Beberapa guru yang sangat berkesan bagi Diko adalah Pak Sihono, Pak Suwanto, Pak Agus Rodhi, dan Pak Wariso. Mengapa mereka berkesan? 

Diko diajar oleh Pak Suwanto saat kelas 8, beliau mengampu matematika, karena saat itu SMP berstatus RSBI, maka kami diminta untuk belajar dengan bilingual. Pak Suwanto berkesan karena, saat itu semua catatan kami harus ditulis di buku berkotak dan harus sistematis, Ya, Pak Suwanto mengajarkan kepada kami bagaimana cara menulis secara sistematis haha. Hal yang berkesan lainnya adalah Pak Suwanto mengajar dengan bahasa Indonesia, tetapi catatan kami harus dalam bahasa Inggris, betapa repotnya menerjemahkan catatan kala itu. Catatan kami pun dinilai di akhir semester. Terima kasih pak atas ilmu menulis secara sistematis yang diberikan, semoga bisa berguna saat skripsi nanti.

Diko diajar oleh Pak Sihono saat kelas 9, beliau juga mengampu matematika. Apa yang membuat beliau spesial? Kegigihan beliau saat mengajar, mendekati UN, beliau dengan inisiatif pribadi memberi tambahan pelajaran kepada kami. Alhamdulillah, cara mengajar beliau sangat bisa dipahami oleh Diko. Terima kasih pak atas materi yang mudah dipahami.

Pak Agus Rodhi dan Pak Wariso mengampu pendidikan agama islam, dari beliau berdualah D000iko diajarkan pentingnya membaca Al-Qur'an. Terima kasih pak, berkat bimbinganmu, Diko mengenal Al-Qur'an.

Selama TK dan SD, Diko selalu menolak untuk mengikuti TPA, jadilah kemampuan membaca Al-Qur'an Diko sangat buruk dibanding yang lain dan hafalan Diko yang hanya beberapa surah pendek. Alhamdulillah ada ibu yang dengan sabar mengajari Diko makhroj huruf. Tidak terlalu buruklah untuk makhroj huruf, walau memang masih belum terlalu baik pada saat itu. Menjelang ujian praktik SMP, hafalan Diko bertambah lumayan, tapi masih di sekitaran surah pendek.

Diko mengakhiri jenjang SMP ini dengan total nilai UN 37,40 dan mendapat peringkat 4 paralel. Pencapaian yang lumayan bagi seorang anak yang tidak mempunyai prestasi selama SMP.

Karena ada suatu masalah dan sifat Diko yang susah melupakan sesuatu, Diko bersikeras untuk bersekolah di kota dan tinggal bersama ayah. Pada awalnya, ibu tidak merelakan, tapi akhirnya merelakan juga, terima kasih bu.

Diko melakukan proses pendaftaran secara mandiri bersama teman-teman SMP lainnya. Kala itu, Diko memilih SMA N 1 Yogyakarta sebagai pilihan pertama, SMA N 8 Yogyakarta sebagai pilihan kedua.

Alhamdulillah, berkat ridho orangtua, Diko diterima di SMA N 1 Yogyakarta, tidak ada yang menyangka, seorang anak yang tidak pernah berprestasi selama SD dan SMP, bisa diterima di sebuah SMA favorit di Yogyakarta. Diko sangat bersyukur.

Saat SMA, Diko bertempat tinggal di daerah Wiyoro, Banguntapan. Tinggal bersama ayah dan keluarga barunya. Alhamdulillah Diko bisa akrab dengan saudara serumah, tetapi Diko tidak pernah bersosialisasi dengan anak-anak di sekitar tempat tinggal Diko.

Kelas 10, Diko menghabiskan waktu sebagai anak yang belum bisa bersosialisasi dengan teman-teman yang sangat baru Diko kenal. Hanya ada tiga orang dari SMP N 1 Wates yang diterima di SMA N 1 Yogyakarta. Lama kelamaan, Diko mulai berusaha untuk bersosialisasi, walau hanya dengan segelintir teman.

Saat event TUC, Diko diberi amanah menjadi anggota Sie Konsumsi dan Sandang, termasuk urusan desain mendesain di dalamnya. Entah siapa yang memasukkan Diko ke sie ini. Diko saat itu hanya berkontribusi sedikit, bahkan ketua sie sampai pasrah dengan Diko. Maaf ADB :"" Dulu Diko masih belum begitu tau desain.

Diko mendaftar Teladan Hiking Association, tapi hanya bisa melewati Kanigoro dan LDD. Diko berhenti.

Diko mendaftar rohis, dimasukkan ke divisi multimedia dan lagi-lagi jarang berkontribusi. Maaf Mas Jidep :"" Kelas 11, Diko mendaftar rohis lagi, dimasukkan ke divisi masjid, alhamdulillah lumayan berkontribusi.

Diko sangat jarang menjadi panitia sebuah event, kecuali Perkemahan Teladan Bhakti. Saat PTB WDP XXIX, Diko diberi amanah sebagai anggota perkap, alhamdulillah bisa berkontribusi, terutama saat mencari sewa tenda, mulai dari PMI, Basarnas, dan TNI. Saat PTB WDP XXX, Diko diberi amanah sebagai ketua 1 distrik rohis, entah apa alasannya, dari yang hanya anggota perkap menjadi ketua 1 distrik rohis. Alhamdulillah amanah ini Diko jalankan dengan baik walau masih ada beberapa kekurangan. Maafkan Diko :" Ada satu hal yang berkesan bagi Diko karena saat itu Diko tiba-tiba akrab dengan seorang teman karena sering berkomunikasi mengenai PTB. Teman yang mengubah kehidupan Diko (tidak usah diceritakan apa yang berubah).

Diko merasa tidak belajar selama kelas 10 dan 11. Karena kalau Diko menganggap bahwa seorang guru tidak cocok cara pengajarannya, maka Diko mengabaikannya. Karena sikap ini, di kelas 12, Diko harus berusaha ekstra untuk mempelajari semua materi yang pernah diajarkan.

Saat menentukan pilihan untuk SNMPTN, Diko sangat bingung, ya, Diko tidak pernah berpikiran akan kuliah di jurusan apa. Akhirnya karena suatu hal, Diko memilih Psikologi UNS, hanya itu. Diko juga tidak terlalu berharap banyak karena memang Diko tidak pantas untuk lolos SNMPTN.

Saat UN, kami menggunakan sistem CBT, setelah selama ini menggunakan sistem PBT. Berlalu seperti biasa.

Karena keyakinan Diko tidak lolos di SNMPTN, Diko mempersiapkan diri untuk mengikuti SBMPTN dan UM UGM, Diko memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta.

Diko mengikuti program superintensif dari Inten, belajar selama kurang lebih satu bulan, dari hari Senin sampai Kamis, pukul 7 pagi sampai 5 sore, ditambah dengan evaluasi di hari Jum'at.

Alhamdulillah, Diko lolos masuk ke Ilmu Komputer UGM melalui jalur SBMPTN, Diko tidak menyangka hal ini. Diko sangat bersyukur. Terima kasih Ya Allah atas kesempatan ini, terima kasih ayah dan ibu atas dukungan dan doa yang diberikan selama ini.

Ya, meski begini, Diko memiliki beberapa harapan yang semoga didengar oleh Allah swt.

yah, bu, besok kalo Diko wisuda, kalian harus dateng bareng ya, Diko gak mau cuma salah satu, terus nanti kita foto bareng :""

yah, bu, insyaAllah Diko akan berusaha untuk jadi anak yg sholeh, kan amalan yang tidak terputus adalah doa anak yang sholeh. Aamiin.

yah, bu, Diko selalu memohon kepada Allah, semoga kalian berdua bisa diberi umur yang panjang, Diko belum bisa hidup mandiri, Diko masih butuh kalian berdua.

yah, bu, semoga suatu saat nanti, kalian berdua bisa berkomunikasi seperti layaknya orang lain yaa, gak baik kalo diem-dieman terus dari dulu.

yah, bu, semoga kita bisa berkumpul kelak di surga. Hidup bahagia selama sebagai satu keluarga. Aamiin.


dalam menulis post ini, Diko sempat beberapa kali meneteskan air mata karena alasan tertentu.

You Might Also Like

0 Comment(s)

Silakan berkomentar dengan bijak dan mohon untuk menggunakan bahasa yang sopan. Terima kasih.